Laporan : Heri Suryo
JAKARTA – Calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Capim KPK) dari unsur hakim, Nawawi Pomolango menilai KPK sekarang ini sempoyongan. Seperti orang pulang dari dugem tengah malam. Tampaknya berjalan cepat, tapi malah jalan di tempat dalam memberantas korupsi.

“Lembaga penegakan hukum yang besar, kewenangan dan dukungan yang besar dari masyarakat, tapi hasilnya biasa-biasa saja bahkan di luar kebiasaan. Itu bukti, karena KPK lebih menekankan pada penindakan, bukan pencegahan,” demikian Nawawi saat uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (11/9).

Hal itu terungkap dalam tes wawancara yang ditanyakan oleh FPKS (Aboebakar Alhabsyi), FPPP (Arsul Sani), FPKB (Anwar Rachman), dan lain-lain dalam uji kelayakan yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi III DPR RI Herman Herry (FPDIP), Desmond J Mahesa, dan Aziz Syamsuddin tersebut.

BACA JUGA  Ketua KPK Beri Kuliah Umum Di STSQABM

Indeks korupsi dalam survei internasional pun lanjut Nawawi, Indonesia masih berada di peringkat ke 38 sama dengan tahun 2016. Itu artinya, KPK jalan di tempat karena menekankan pada penindakan. “Kalau nyontoh Korea Selatan, Ombudsmen yang berhasil melakukan pencegahan, bukan KPK-nya. Justru KPK karena dianggap menggangu pembangunan Korsel lalu dibubarkan, sehingga indeks korupsi Korsel sangat bagus,” katanya.

Apalagi hasil pemeriksaan keuangan dari BPK, KPK mendapat WDP (wajar dengan pengecualian). Belum lagi konflik internal KPK terkait uang dari lelang barang sitaan, berebut menjadi penyidik, dan anehnya pegawai KPK seolah menjadi oposisi pemerintah. “Jadi, di internal KPK sendiri harus dibereskan,” jelas Nawawi.

BACA JUGA  Dirut PLN 'Tersengat' Proyek PLTU

Ketika ditanya, kenapa dirinya mau menjadi hakim Tipikor, dia menjawab hanya greget saja melihat kinerja KPK saat ini. Dimana selama 17 tahun ini KPK jalan di tempat. Padahal dengan kewenangan dan dukungan yang besar harusnya hasilnya luar biasa. “Jadi, saya ingin berada di garda terdepan dalam pemberantasan korupsi ini,” ungkapnya.

Nawawi sebelumnya menjadi hakim Tipikor dan menangani kasus impor gula yang melibatkan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq (LHI), Mantan Ketua DPD RI Irman Gusman, lalu dimutasi ke PN Bandung, dipindah ke PN Samarinda, dan ditarik lagi ke PT Jakarta Timur, dan terakhir menangani hakim MK Patrialis Akbar, dan kini hakim di PT Bali.[*]

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here