BERBAGI

Laporan : Ilham Prayogi /Tb

JAKARTA – Dalam rangka mendukung agenda prioritas untuk pencegahan stunting, BKKBN memiliki tugas untuk memberikan penyuluhan bagi orangtua dan anggota keluarga lainnya untuk mengasuh dan membina tumbuh kembang balita.

Oleh karena itu, Kantor BKKBN Pusat bersama dengan Aster Panglima TNI Para Pejabat Tinggi BKKBN akan membahas mengenai persiapan kegiatan pelaksanaan Bakti Sosial TNI Manunggal KB-Kesehatan Tahun 2018.

Bakti Sosial tersebut akan dilaksanakan di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang merupakan Kabupaten Prioritas Penggarapan Stunting berdasarkan data 100 kabupaten dan kota prioritas untuk intervensi anak kerdil (stunting).

Tema yang diangkat adalah “Dengan Semangat Gotong Royong dan Sinergi, Kita Jadikan Kampung KB sebagai Poros Keluarga Berkualitas”.

Sigit menjelaskan maksud dan tujuan Bakti Sosial TNI Manunggal KB-Kesehatan.

Sebagai tindak lanjut Nota Kesepahaman antara BKKBN dengan TNI
Percepatan capaian Program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) melalui Bakti Sosial TNI Manunggal KB-Kesehatan (TMKK) untuk mewujudkan penduduk tumbuh seimbang dan Keluarga Sejahtera

Indonesia mengatasi permasalahan gizi ganda, yaitu kekurangan gizi seperti wasting (kurus) dan stunting (pendek) pada balita, anemia pada remaja dan ibu hamil serta kelebihan gizi termasuk obesitas baik pada balita maupun orang dewasa

BACA JUGA  Panglima TNI Sambangi Aremania

Perkembangan terakhir pelaksanaan Program KKBPK
Sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden untuk pembentukan Kampung KB. TNI merupakan mitra kerja yang sangat potensial dalam mempercepat pencapaian keberhasilan program, sehingga dapat menekan angka kelahiran.

“TNI merupakan mitra kerja yang sangat potensial dalam mempercepat pencapaian keberhasilan program, sehingga dapat menekan angka kelahiran,” tambahnya.

Berdasarkan angka kelahiran total (TFR) hasil sementara SDKI tahun 2017 yaitu 2,4, dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) sebesar 1,49% per tahun pada periode tahun 2000-2010 menjadi 1,38% per tahun pada kurun tahun 2010-2015, lalu menjadi 1,19% per tahun pada periode tahun 2015-2010, CPR modern sebesar 57,9% dari target seharusnya sebesar 62,5%, unmet need (kebutuhan pelayanan KB yang tidak terpenuhi) sebesar 11,4%,

Saat ini Indonesia sedang mengatasi permasalahan gizi ganda, yaitu kekurangan gizi seperti wasting (kurus) dan stunting (pendek) pada balita.

BACA JUGA  HUT 493, Jakarta Harus Lebih Tangguh

Adapun anemia pada remaja dan ibu hamil serta kelebihan gizi termasuk obesitas baik pada balita maupun orang dewasa. Sekitar 37% (hampir 9 juta) anak balita mengalami stunting (Riskesdes 2013) dan Indonesia adalah negara dengan prevalensi stunting ke 5 terbesar.

Anak kerdil yang terjadi di Indonesia sebenarnya tidak hanya dialami oleh keluarga yang miskin dan kurang mampu, akan tetapi stunting juga dialami oleh keluarga yang tidak miskin/yang berada di atas 40 persen tingkat kesejahteraan sosial dan ekonomi.

“Komitmen TNI yang sangat kuat dalam mendukung program KKBPK sampai dengan saat ini dirasakan pada beberapa kegiatan yang dilaksanakan oleh BKKBN,” ucap Sigit.

Selain itu, Sigit juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui Program KKBPK yang dapat dilakukan di setiap desa di Kampung KB.

Sasaran Kampung KB utamanya adalah penduduk yang tinggal di wilayah miskin, padat penduduk, kurang memiliki akses kesehatan, terpencil, pesisir, kumuh dan kesertaan ber-KB nya masih rendah.[*]

BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here