BERBAGI

Laporan : Heri Suroyo

BALI – Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo mengapresiasi peningkatan progres Tuksedo Studio Bali sebagai salah satu pusat produksi berbagai kendaraan klasik di Indonesia. Bagi para pecinta otomotif, kendaraan klasik punya pesona tersendiri. Tidak mudah mendapatkanya, selain tak diproduksi lagi oleh pabrikan aslinya, jumlahnya yang terbatas juga sudah dimiliki berbagai kolektor. Sehingga untuk mendapatkannya, harus menyiapkan dana yang tidak sedikit.

“Mengusung ‘Welcome to the place where science and art break even’, kehadiran Tuksedo Studio Bali bisa menjadi jawaban bagi para pecinta kendaraan klasik untuk memiliki kendaraan klasik impiannya. Mereka mampu memproduksi dari nol, dari mulai menyiapkan sasis hingga body. Hasil pengerjaannya pun tidak kalah dibandingkan produk aslinya. Kesan elegannya tetap terasa, seperti memiliki kendaraan aslinya,” ujar Bamsoet saat kembali berkunjung ke Tuksedo Studio Bali di Kawasan Gianyar, Bali, Sabtu (11/9).

Turut hadir antara lain Owner Tuksedo Studio Bali Puji Handoko dan Lili Mardianto serta General Marketing Tuksedo Studio Bali Djoko Iman Santoso. Hadir pula pengurus IMI Pusat, antara lain Sekretaris Jenderal dan Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni, Hubungan Antar Lembaga Andrys Ronaldi, serta Komisi Sosial George Alexander dan Aris Birawa.

BACA JUGA  Risma Lamban! HNW Tagih Bansos PPKM Darurat

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, berbagai kendaraan klasik yang sudah diproduksi Tuksedo Studio Bali antara lain, Porsche 356 Speedster (1957), Porsche 356 A Coupe (1955-1959), Porsche 550 Spyder (1953-1956), Mercedes Benz 300 SL Gullwing (1954 1957). Kemudian Toyota 2000 GT 1968 (1967-1970), Jaguar XK 120 (1948-1954), Ferrari 250 GTO (1962-1964), hingga Maserati 450S (1956-1958).

“Tuksedo Studio Bali juga menjadi tempat bagi para anak-anak muda untuk belajar membuat kendaraan dari nol. Dimulai dari tahap 3D design, rekonstruksi rangka, dan memasang plat alumunium berbobot ringan, hingga tidak melupakan pembangunan aspek estetika dan ergonomi mobil. Melalui Tuksedo Studio Bali, membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia juga bisa meramaikan dunia produksi mobil klasik, yang kini juga sedang digandrungi oleh builder dari berbagai negara,” jelas Bamsoet.

BACA JUGA  Bamsoet: Dharma Wanita Harus Mampu Tangkal Ideologi Transnasional

Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Pertahanan, dan Keamanan KADIN Indonesia ini menerangkan, Tuksedo Studio Bali juga bisa menjadi sport tourism unggulan di Bali. Semakin hari, banyak turis domestik hingga mancanegara yang penasaran ingin melihat seperti apa proses pembuatan kendaraan klasik yang dilakukan orang Indonesia.

“Salah satu karya ikonik Tuksedo Studio yang baru saja diperkenalkan adalah Porsche 356 Speedster, dengan dimensi ukuran wheelbase 2.1000 mm, panjang 3.870mm lebar 152.4mm serta tinggi 1.220mm. Dibentuk dari tempaan aluminium setebal 1,5- 2.5mm. Basic mesin memakai kepunyaan Volkswagen 1.300CC dan Mercedes-Benz 300 SL Gullwing tahun 1957 yang harganya di pasaran dunia mencapai dua juta dolar AS atau hampir Rp 30 miliar. Di Tuksedo Studio Bali, harganya tidak sampai sepersepuluhnya,” pungkas Bamsoet. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here