Doel Remos

TANPA membedakan antara Sekolah Tahu di Diri (STD) dan Sekolah Kepribadian (SK), yang pasti tidak jauh-jauh juga kalau di implementasikan dalam dunia coret mencoret yang selama ini di lakoni.

Pertanyaan dari kedua sekolah itu, bisa di implementasikan; Siapa aku (dalam kontek berinteraksi)? Dimana Aku (Komunitas pergaulan/bekerja)? Apa yang sudah kuperbuat (dalam karya ataupun kebaikan untuk orang lain)? Kapan aku berbuat (pada diri sendiri dan ataupun berbuat untuk makhluk sosial lain)? bagaimana aku (sudah maksimalkah berbuat untuk diri sendiri atau orang disekitar)? Dan banyak lagi pertanyaan, hingganya kita benar-benar tahu siapa diri kita.

BACA JUGA  Olahraga Kalangan Nol Besar

Hingganya kita bener-bener tahu, pantaskah kita memperoleh sesuatu (materi maupun in materi) jika ditimbang-timbang dengan apa yang sudah kita lakoni. Memang berat Suhu, menterjemahkan apa yang dimaksudkan dengan Sekolah Tahu Diri. Karena, banyak yang mau berbagi kesusahannya dengan orang lain, sementara kita tidak tahu kapan dia bersenang-senang.

IKLAN

Yang jadi persoalan, diingkungan Doel Remos dan Din Bacut serta Radin Jambat, banyak yang tak tahu diri dan atu mau enak sendiri! Gimana Suhu? “Kenaiken gaweh, naan tiyan sosah sayan. Naan tiyan matei sayan. Naan tiyan sarow sayan. Dang difikirken,”ujar Sang Suhu dalam mimpi Doel Remos dan Din Bacut yang tertidur ditepian gubuk bambu pematang sawah desa Negeri Kalangan usai ronda tadi malam. Bahan perenungan buat warga di Negeri Kalangan yang kian carut marut……………..

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here