Oleh: H Deden
Sebuah kisah inspiratif, menarik untuk dibaca, dikaji dan diamalkan. Cerita dirangkum dalam khotbah sholat Jum’at di Masjid Al Makmur Gunung Kemala Krui, Pesisir Barat Lampung. Penulis lama sekali tak Sholat Jum’at disana.

Alkisah, orang tua sahabat ku sampai di masjid, adzan berkumandang dengan merdu. Karena terlambat dia tidak tahu siapa nama khotibnya saat itu. Tergolong muda, tampan, berjenggot tipis, penampilan bersih, wajahnya terpancar aura dan kecerdasan. Tutur katanya lembut, namun tegas dan lugas. Penasaran, apa kira kira inti Sari khotbahnya.

Penyampaian ceramah membuat jamaah larut dalam keharuan. Tak sedikit mengucurkan air mata, bahkan ada yang tersedu sedu dan isak tangis. Khotib berkhotbah sebuah kisah “True Story”.

Dikisahkan seorang anak berumur 10 tahun bernama Umar. Dia anak Pengusaha Sukses yang Kaya Raya. Oleh ayahnya Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di ibukota. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi bagi pengusaha itu, bukan masalah karena uangnya berlimpah.

BACA JUGA  Waspada, 75% Diabetes Tak Terdeteksi

Sang ayah berfikir anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang, agar kelak menjadi orang hebat menggantikannya. Suatu hari isterinya kasih tahu kalau Sabtu depan ayahnya diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah. “Waduuuh saya sibuk mah, kamu aja deh yang datang. ”Begitu gumam sang ayah pada isterinya”, diceritakan dalam khotbah tersebut.

Baginya acara beginian tidak penting, dia sibuk urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah, setengah memaksa. Sebab sudah kesekian kalinya sang ayah, nggak pernah mau datang ke-acara anaknya. Anaknya malu karena selalu didampingi ibunya, sedang anak2 lain selalu didampingi ayahnya.

Karena isterinya setengah dipaksa, si ayah mau hadir meski ogah2an. Father’s day adalah acara yang dikemas panitia. Dimana anak anak saling unjuk kebolehan di depan para orang tua mereka. Ayah Umar memilih duduk di paling belakang, sementara para ayah lain, terutama yang muda muda berebut duduk di depan, agar bisa menyemangati putra mereka yang akan tampil di panggung.

BACA JUGA  Siap-siap, Dompet Digital WhatsApp Akan Meluncur Di Indonesia

Satu persatu anak anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing masing. Ada yang Beryanyi, Menari, Membaca Puisi, Pantomim. Ada pula yang pameran lukisan dll. Semua mendapat applause gegap gempita dari para hadirin.

Giliran Umar dipanggil, untuk unjuk kebolehan. Umar memilih baca Al Qur’an dengan hapal. “Bu, bolehkah saya panggil pak Arief.” tanya Umar pada gurunya. Pak Arief adalah guru mengaji kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. ”Oh boleh, Umar”, jawab sang guru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here