ALih Fungsi Lahan Penyebab Banjir

Sabtu, 3 Oktober 2026 | 15:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ABDUL Hadi, Anggpta Komisi V DPR RI menyoroti alih fungsi lahan dan pembangunan di kawasan bantaran sungai yang dinilai turut memperparah persoalan banjir di wilayah Bogor. Abdul Hadi menilai pengendalian tata ruang perlu diperkuat seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir.

Ia juga mengatakan, banjir di wilayah Bogor berdampak terhadap kawasan permukiman dengan luasan sekitar 5.000 hingga 7.000 hektare. Menurutnya, selain faktor kondisi sungai, alih fungsi lahan dan pembangunan di sekitar bantaran sungai turut memengaruhi daya tampung serta aliran air.

“Ada sekitar 5.000 sampai 7.000 hektare yang menimpa masyarakat yang kebetulan adalah lokasi perumahan di Kota Bogor. Ini menjadi catatan kita karena memang alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab, selain pembangunan di sekitar bantaran sungai,” ujar Abdul Hadi usai mengikuti Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI sekaligus meninjau Proyek Pengendalian Banjir Sungai Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).

Ia menilai pemerintah perlu segera menangani titik-titik rawan banjir, baik melalui langkah jangka pendek maupun perencanaan jangka panjang. Salah satunya dengan membangun kolam retensi untuk menampung dan mengendalikan debit air saat musim hujan.

Baca Juga:  Gubernur Mirza: Pelayanan Makin Mudah, Pajak untuk Masyarakat

“Yang harus segera dilakukan adalah memastikan titik-titik atau spot yang sangat berbahaya bisa ditangani sementara dan bertahap sesuai kondisi anggaran yang ada. Untuk jangka panjang, harus ada perencanaan pembangunan kolam retensi agar mampu mengendalikan banjir,” katanya.

Abdul Hadi juga menyoroti belum tuntasnya pembebasan lahan yang menjadi kendala proyek pengendalian banjir di Sungai Cileungsi, Cikeas, dan Bekasi. Padahal, program tersebut sebelumnya telah mendapatkan dukungan anggaran.

“Pernah kita anggarkan untuk tiga sungai ini, tetapi ternyata masalahnya masih pada belum selesainya pembebasan lahan. Akhirnya dana tersebut dikembalikan. Ini menjadi catatan kita,” jelasnya.

Karena itu, Komisi V meminta Kementerian Pekerjaan Umum memastikan persoalan pembebasan lahan diselesaikan agar pembangunan infrastruktur pengendalian banjir dapat berjalan efektif. Selain infrastruktur, Abdul Hadi menekankan pentingnya penegakan aturan tata ruang, khususnya terkait sempadan sungai dan jalan inspeksi. Ia meminta pemerintah pusat dan daerah menyelaraskan kebijakan perizinan agar pembangunan tidak justru memperbesar risiko banjir.

Baca Juga:  RUU Reforma Agraria Didorong Jadi Solusi, DPR Soroti Regulasi Tumpang Tindih

“Sering kali satu sisi kita melarang di pusat, tetapi di kabupaten, kota, bahkan provinsi memberikan rekomendasi. Akhirnya terjadi salah fungsi penggunaan lahan,” ungkapnya.

Ia menegaskan kawasan yang telah ditetapkan untuk perlindungan sungai tidak boleh digunakan untuk pembangunan. “Mana yang sudah diatur oleh undang-undang, itu tidak boleh dibangun. Apalagi jalan inspeksi di sekitar sungai dan bantaran sungai, itu ada aturannya dan harus dijalankan,” tegas Abdul Hadi.

Menghadapi musim hujan, ia meminta pemerintah mempercepat langkah pengamanan di kawasan rawan banjir. Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan keputusan strategis dan koordinasi lintas pemerintahan agar dapat dilakukan secara terpadu.

“Ini cukup panjang, sekitar 80 kilometer yang harus kita tangani. Untuk tahap utama sekitar 11 kilometer terlebih dahulu, dan tentu anggarannya cukup besar,” tutupnya.[]


Penulis : Heri Suroyo


Editor : Nara J Afkar


Sumber Berita : Jakarta

Temukan berita-berita menarik lainnya

Berita Terkait

Firli Bahuri  Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih  IPK 4,0
Trafik Tol Sumatera Hanya 50%, BAKN Cari Bisnis Lain
28 Negara Serukan Hentikan Tindakan “Koersif”
Menengok Perayaan Hari Batik Nasional di Solo, Jawa Tengah
Suyudi Ario Seto Siap Beri Ruang Koreksi dari Masyarakat
Kasus Lp Cibinong, Dirjenpas Mundur
MA Dukung “Ageman”; Refleksi Nyata Harmoni Bangsa
AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga dan Tambah 10.000 Personel ke Timur Tengah
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:19 WIB

ALih Fungsi Lahan Penyebab Banjir

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:49 WIB

Firli Bahuri  Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih  IPK 4,0

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Trafik Tol Sumatera Hanya 50%, BAKN Cari Bisnis Lain

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:47 WIB

28 Negara Serukan Hentikan Tindakan “Koersif”

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 13:41 WIB

Menengok Perayaan Hari Batik Nasional di Solo, Jawa Tengah

Berita Terbaru

Bencana

ALih Fungsi Lahan Penyebab Banjir

Sabtu, 3 Okt 2026 - 15:19 WIB

Berita Utama

Firli Bahuri  Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih  IPK 4,0

Sabtu, 3 Okt 2026 - 14:49 WIB

Rapat Dengar Pendapat Terkait Rol Sumatera

Berita Utama

Trafik Tol Sumatera Hanya 50%, BAKN Cari Bisnis Lain

Sabtu, 3 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita Utama

28 Negara Serukan Hentikan Tindakan “Koersif”

Sabtu, 3 Okt 2026 - 13:47 WIB

SEJUMLAH perempuan yang mengenakan baju batik dan membawa payung bermotif batik melakukan peragaan busana saat peringatan Hari Batik Nasional di sebuah penyeberangan jalan di sekitar lampu lalu lintas Jalan Slamet Riyadi di Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah, pada 2 Oktober 2026. (Xinhua)

Berita Utama

Menengok Perayaan Hari Batik Nasional di Solo, Jawa Tengah

Sabtu, 3 Okt 2026 - 13:41 WIB